Mencoba memahami critical thinking dari 👧 anak usia 4 tahun dengan biskuit 🍪 Oreo

Ada riset yang bilang berpikir kritis punya korelasi dengan kesabaran.

Mencoba memahami critical thinking dari anak usia 4 tahun dengan biskuit Oreo

Gue mau membagikan beberapa hal yang gue dapetin dari buku yang gw baca, Raising Critical Thinkers. Sebenarnya gue berekspetasi gue akan terinspirasi terkait ilmu-ilmu parenting. Maklum sudah 👨 bapack-bapack hehehe... Eh taunya gue malah dapat banyak ilmu yang relevan buat designer juga terkait critical thinking.

Nah penulisnya, Julie Bogart, mengutip salah satu kalimat dari seorang psychologist bernama Daniel Kahneman yang bilang, ada korelasi yang kuat antara critical thinking dengan self control (mengendalikan diri). Beliau sendiri bilang begitu karena berdasarkan sebuah eksperimen yang terkenal dari psychologist bernama, Walter Mischel. Eksperimen ini dikenal juga dengan nama Stanford marshmallow experiment. Di dalam eksperimennya Walter ngetes kemampuan mengontrol diri anak-anak berumur 4 tahun yang ditinggal sendirian dengan satu biskuit Oreo atau reward apapun lainnya. Nah, sebelum ditinggal anak-anak tersebut dikasih instruksi untuk menunggu dan tidak makan Oreonya sampai 15 menit. Kalau berhasil, maka mereka akan dikasih tambahan 1 lagi. Setengah dari partisipan anak-anak tersebut berhasil.

10-15 tahun kemudian, Walter menelusuri mereka yang berhasil ternyata memiliki skor tinggi dalam test IQ.

Kesimpulannya kurang lebih adalah dibutuhkan sebuah penguasaan diri (self control) untuk seseorang dapat berpikir kritis.

Nah apakah ini artinya buat seorang designer, punya waktu lebih banyak akan membantu mereka lebih berpikir kritis?

Kamu bisa saja pakai cerita eksperimen Walter di atas menjadi argumen kamu untuk meminta PM kamu memperpanjang timeline.

Tetapi...

Dengan waktu yang lebih, kamu perlu menunjukkan sebuah kualitas dari kerjaan yang akan kamu deliver.

Hal yang bisa kamu lakukan dengan waktu yang lebih adalah refleksikan lagi ide/solusi/arah/konsep kamu.

  • Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang bisa provoke kesadaran diri (self awareness) kamu kalau-kalau ide kamu tuh banyak kelemahannya.
  • Ajak peer kamu untuk jadi teman sparing, yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan nakal yang buat kamu meragukan ide kamu.

Buat kamu yang suka bantuin ngereview, mengajukan pertanyaan akan lebih baik ketimbang memberikan masukan/jawaban/kritik langsung. Karena lewat pertanyaan, akan membantu teman kamu berpikir dan membangun kesadaran diri (self awareness) tentang kenapa saya bisa sampai ke ide/konsep tersebut.

Buat design lead/manager, jika designer kamu masih fresh alias junior, Sebaiknya kamu tidak memaksakan mereka untuk berpikir kritis atau thoughtful dengan kerjaan mereka. Gue akan bahas di artikel lainnya, mengapa begitu. Nah, kamu juga bisa pandu mereka dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu mereka untuk lebih sadar dengan jalan pikirannya.

Ide design kamu, sama halnya kisah ujian di atas. Ketika kamu percaya banget, langsung main hajar dengan buah pemikiran awal saja tanpa berpikir dua tiga kali, jangan-jangan ada use case yang terlewat. Corner case yang belum tersingkap. Atau mungkin, malah pemahaman kamu tentang problemnya yang masih setengah matang.

Selalu ingat untuk menjadi kritis dibutuhkan sebuah pengendalian diri (self control) untuk lebih sadar (self aware) akan cara berpikir diri sendiri.

Quality thinkers delay the gratification of being immediately right. – Julie Bogards

Other notes:

  • Tell this story to your mom supaya lebih bersabar pas dapat message dari sebuah grup Whatsapp, gak langsung di broadcast ke grup lainnya. ✌️
  • Dari cerita di atas yang saya tulis, saya juga berusaha untuk mengendalikan diri untuk tidak 100% yakin dengan kebenarannya dan tetap punya ruang untuk informasi dan sudut pandang lain masuk.